Cari Blog Ini

Sabtu, 29 Mei 2010

JADIKANLAH MEMBACA SEBAGAI SUATU KEGEMARAN YANG MENGASYIKKAN, BUKAN SUATU KETERPAKSAAN


JADIKANLAH MEMBACA SEBAGAI SUATU KEGEMARAN YANGG MENGASYIKKAN, BUKAN SUATU KETERPAKSAAN

Upaya menumbuhkan budaya membaca dikalangan masyarakat Indonesia jangan sebatas mengampanyekan membaca untuk membuat pintar. Membaca harus bisa dibuat menjadi kegiatan mengasyikkan yang mampu memperkaya cita rasa seseorang dalam kehidupan.
Kita harus tahu bahwa membaca dapat menjadi kegiatan yang seru. Membaca bukan sekedar membaca tulisan – tulisan di buku. Membaca itu bisa memotivasi munculnya imajinasi. Dengan imajinasi itu, kita bisa jadi kreatif untuk menghasilkan karya – karya imajinaftif.

Mungkin bagi sebagian orang atau bahkan kebanyakan orang, membaca itu adalah suatu pekerjaan yang sangat membosankan dan kurang menyenangkan.
Apalagi bagi sebagian / kebanyak orang di Indonesia khususnya. Karena kebiasaan membaca itu masih sulit kita jadikan suatu kebiasaan.
Hal ini dapat kita lihat langsung pada kebanyakan keluarga di Indonesia, berapa banyak orangtua dan anak-anak mereka yang mempunyai kegemaran dan kebiasaan membaca. Jawabnya sudah pasti relative sedikit.

Hal ini mungkin disebabkan berbagai faktor, antara lain:

• Masih tingginya atau relative mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli buku. Tentu hal ini semestinya jangan dijadikan suatu kendala / keadaan yang rumit sehingga dijadikan alasan untuk enggan dan malas membaca. Padahal masih ada hal yang bisa kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan akan buku, misalnya saja dengan meminjam buku-buku bermutu di perpustakaan sekolah, di kantor, perpustakaan keliling, atau pun pinjam kepada teman, dsb.

• Kebanyakan kita tidak mengetahui kebutuhan buku yang seharusnya kita baca. Terutama untuk menambah wawasan demi pengetahuan kita sebagai manusia. Sungguh ini suatu prestasi yang tidak dapat dibanggakan. Disaat pemerintah justru sedang menggalakkan program untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Suatu kenyataan yang sangat ironis, di mana banyak sekali buku-buku yang menawarkan nilai-nilai positif dalam berbagai aspek kehidupan. Akan tetapi pada kenyataanya yang laku dan laris manis dan dicari dipasaran justru adalah buku-buku bergambar (komik) dan majalah-majalah infotainment yang belum tentu memberikan nilai tambah bagi para pembacanya.

Memang tidak ada salahnya membaca buku seperti itu di waktu senggang, untuk keperluan refreshing, tetapi bila kita ingin benar-benar menambah wawasan kita tentang nilai-nilai kehidupan, alangkah baiknya jika kita mulai belajar membaca buku yang lebih “Berbobot” dan memberi nilai “Tambah” dari segala aspek tentunya.
Sebenarnya yang perlu ditingkatkan / ditanamkan untuk meningkatkan kapasitas kita adalah dengan mengembangkan “Wawasan” kita. Dan salah satu cara untuk menambah wawasan kita adalah dengan banyak “Membaca”. Perlu kita ketahui bahwa dengan membaca kita sedang menginvestasikan pengetahuan kita demi menghadapi masa yang akan datang yang penuh tantangan dari dunia global. Jadi mau tidak mau kita harus membekali diri kita guna menghadapi pengaruh tersebut, tidak lain caranya adaah dengan memabaca. Sebenarnya hampir semua orang mengerti akan pentingnya membaca, tetapi mereka tidak ingin menjadikan membaca sebagai salah satu kegemaran / hobi mereka dalam proses pengembangan dirinya.



Ada 4 tips yang dapat diambil untuk melatih diri kita dalam meningkatkan kegemaran kita untuk membaca:

Tips yang Pertama:
Mendisiplinkan diri, yaitu : Jadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan. Sebagaimana halnya kebiasaan yang lain, membaca membutuhkan keadaan yang berlangsung secara rutin dan terus menerus. Kunci Utamanya adalah : mendisiplinkan diri kita untuk membaca.
Hal ini dapat kita mulai dengan membaca buku-buku Best-Seller.
Gunanya untuk menstimulasi minat baca kita. Karena buku-buku yang diakui sebagai best-seller biasanya membuktikan bahwa buku tersebut mudah masuk ke berbagai macam kalangan.
Bila minat baca kita sudah mulai terbangun dengan kuat, tingkatkan dengan membaca buku-buku yang sifatnya lebih spesifik, misalnya spesifik ke suatu aspek kehidupan kita, misalnya saja : aspek bisnis, aspek psikologi, aspek religius, dan berbagai aspek lainnya.

Tips yang Kedua:
Bawalah buku bersama kita saat pergi.
Karena, banyak diantara kita tidak suka membaca dengan alasan “tidak punya waktu luang” ??? Padahal jika kita jujur pada diri kita sendiri, sebenarnya waktu itu selalu bisa kita dapatkan. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah Bagaimana kita mengisi waktu luang tersebut dan me-manage nay dengan jelas.
Mungkin bagi orang-orang yang memiliki tingkat aktivitas yang tinggi, saran yang baik adalah dengan membawa buku bersama dengan kita pada saat kita bepergian.
Karena demikian, pada waktu kita senggang (misalnya saja pada saat kita duduk menunggu seseorang) kita dapat mengisinya dengan membaca buku yang kita bawa.

Tips yang Ketiga:

Membiasakan diri untuk menetapkan target membaca.
Seorang pakar, bernama : John C. Maxwell pernah menyarankan untuk menetapkan sebuah target dalam hal berapa banyak buku yang akan kita baca dalam suatu periode waktu tertentu. Karena dengan demikian, kita bisa melatih diri kita untuk time management yang baik.
Misalnya, bila kita bisa menetapkan target minimal 12 buku dalam setahun, maka kita bisa memprediksi bahwa kita akan menyelesaikan setidaknya 1 buku dalam sebulan.
Bila kita mau jujur, waktu sebulan adalah relatif panjang untuk menyelesaikan sebuah buku, apalagi bila diiringi dengan kebiasaan membawa buku seperti tips nomor dua diatas!!!

Tips yang Keempat:
Jangan membaca hanya semata-mata karena kewajiban & suatu keterpaksaan.
Kebanyakan orang, terutama di Indonesia membaca hanya semata-mata karena kewajiban & suatu keterpaksaan untuk mengerjakan tugas atau mempersiapkan suatu ujian. Sewaktu kita masih duduk dibangku sekolah (di kalangan pelajar) di Indonesia, istilah SKS yang berarti “Sistim Kebut Semalam” suatu yang tidak asing yang kerap kita dengar. Mungkin kita akan tertawa bila kita ingat / saat kita mendengar istilah tersebut. Tetapi sebenarnya banyak yang tidak peduli pada kenyataan bahwa: Cara Belajar seperti itu Bukanlah Cara Belajar yang Baik.
Sebagai dampak dari membaca yang dilakukan hanya semata-mata karena kewajiban dan cenderung merasa suatu keterpaksaan. Sungguh suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan bukan ???

Kebanyakan dari kita, hanya yang memiliki pemikiran yang sifatnya text-book thinking, atau hanya terpaku pada apa yang dituliskan di buku, dan lemah dalam mengimplementasikan maupun mengembangkan teori yang sudah dipelajarinya dalam kehidupan nyata.
Padahal tidak dapat kita pungkiri bahwa “Membaca” adalah suatu hal yang Sangat Baik, terutama bila berkaitan dengan menambah “Wawasan & Pengetahuan” dalam hidup kita. Penting untuk diingat : Dengan meningkatkan intensitas kita dalam membaca, maka dengan sendirinya kita sedang berinvestasi untuk diri kita sendiri bagi masa depan kita.
Semakin banyaknya pengetahuan yang kita miliki, semakin besar jugalah kesempatan untuk kita menjadi orang yang lebih bijaksana dalam bertutur kata dan bertindak tentunya.
Jadi tunggu apalagi, mari kita mulai membiasakan diri dengan “MEMBACA”
Salam Sukses !
Dari Servista Bukit

Sumber : elindasari

Minggu, 16 Mei 2010

MEMBACA HARUS MENGASYIKKAN

MEMBACA HARUS MENGASYIKKAN

Upaya menumbuhkan budaya membaca dikalangan masyarakat Indonesia jangan sebatas mengampanyekan membaca untuk membuat pintar. Membaca harus bisa dibuat menjadi kegiatan mengasyikkan yang mampu memperkaya cita rasa seseorang dalam kehidupan.
Kita harus tahu bahwa membaca dapat menjadi kegiatan yang seru. Membaca bukan sekedar membaca tulisan – tulisan di buku. Membaca itu bisa memotivasi munculnya imajinasi. Dengan imajinasi itu, kita bisa jadi kreatif untuk menghasilkan karya – karya imajinaftif.
Mungkin bagi sebagian orang atau bahkan kebanyakan orang, membaca itu adalah suatu pekerjaan yang sangat membosankan dan kurang menyenangkan.
Apalagi bagi sebagian / kebanyak orang di Indonesia khususnya. Karena kebiasaan membaca itu masih sulit kita jadikan suatu kebiasaan.
Hal ini dapat kita lihat langsung pada kebanyakan keluarga di Indonesia, berapa banyak orangtua dan anak-anak mereka yang mempunyai kegemaran dan kebiasaan membaca.
Jawabnya sudah pasti relative sedikit.
Hal ini mungkin disebabkan berbagai faktor, antara lain:
• Masih tingginya / relative mahalnya biaya yang harus mereka rogoh dari kocek mereka bila mereka harus membelikan / membelanjakan uang mereka untuk membeli buku. Tentu hal ini semestinya jangan dijadikan suatu kendala / keadaan yang rumit sehingga dijadikan alasan untuk enggan dan malas membaca.

• Masih banyak cara lain untuk mengatasinya, misalnya saja dengan meminjam buku-buku bermutu di perpustakaan sekolah, di kantor, perpustakaan keliling, pinjam teman, dsb.
Sungguh ini suatu prestasi yang tidak dapat dibanggakan. Disaat pemerintah justru sedang menggalakkan program untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Suatu kenyataan yang sangat ironis, di mana banyak sekali buku-buku yang menawarkan nilai-nilai positif dalam berbagai aspek kehidupan.


Akan tetapi pada kenyataanya yang laku dan laris manis dan dicari dipasaran justru adalah buku- buku bergambar (komik) dan majalah-majalah infotainment yang belum tentu memberikan nilai tambah bagi para pembacanya.

Memang tidak ada salahnya membaca buku seperti itu di waktu senggang, untuk keperluan refreshing, tetapi bila kita ingin benar-benar menambah wawasan kita tentang nilai-nilai kehidupan, alangkah baiknya jika kita mulai belajar membaca buku yang lebih “Berbobot” dan memberi nilai “Tambah” dari segala aspek tentunya.
Sebenarnya yang perlu ditingkatkan / ditanamkan untuk meningkatkan kapasitas kita adalah dengan mengembangkan “Wawasan” kita. Dan salah satu cara untuk menambah wawasan kita adalah dengan banyak “Membaca”. Sebenarnya hampir semua orang mengerti akan pentingnya membaca, tetapi mereka tidak ingin menjadikan membaca sebagai salah satu kegemaran / hobi mereka dalam proses pengembangan dirinya.
Ada 4 tips yang dapat diambil untuk melatih diri kita dalam meningkatkan kegemaran kita untuk membaca:
Tips yang Pertama:
Mendisiplinkan diri, yaitu : Jadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan. Sebagaimana halnya kebiasaan yang lain, membaca membutuhkan keadaan yang berlangsung secara rutin dan terus menerus. Kunci Utamanya adalah : mendisiplinkan diri kita untuk membaca.
Hal ini dapat kita mulai dengan membaca buku-buku Best-Seller.
Gunanya untuk menstimulasi minat baca kita. Karena buku-buku yang diakui sebagai best-seller biasanya membuktikan bahwa buku tersebut mudah masuk ke berbagai macam kalangan.
Bila minat baca kita sudah mulai terbangun dengan kuat, tingkatkan dengan membaca buku-buku yang sifatnya lebih spesifik, misalnya spesifik ke suatu aspek kehidupan kita, misalnya saja : aspek bisnis, aspek psikologi, aspek religius, dan berbagai aspek lainnya.



Tips yang Kedua:
Bawalah buku bersama kita saat pergi.
Karena, banyak diantara kita tidak suka membaca dengan alasan “tidak punya waktu luang” ???
Padahal jika kita jujur pada diri kita sendiri, sebenarnya waktu itu selalu bisa kita dapatkan.
Yang menjadi masalah sebenarnya adalah Bagaimana kita mengisi waktu luang tersebut.
Mungkin bagi orang-orang yang memiliki tingkat aktivitas yang tinggi, saran yang baik adalah dengan membawa buku bersama dengan kita pada saat kita bepergian.
Karena demikian, pada waktu kita senggang (misalnya saja pada saat kita duduk menunggu seseorang) kita dapat mengisinya dengan membaca buku yang kita bawa.
Tips yang Ketiga:
Membiasakan diri untuk menetapkan target membaca. Seorang pakar, bernama : John C. Maxwell pernah menyarankan untuk menetapkan sebuah target dalam hal berapa banyak buku yang akan kita baca dalam suatu periode waktu tertentu. Karena dengan demikian, kita bisa melatih diri kita untuk time management yang baik.
Misalnya, bila kita bisa menetapkan target minimal 12 buku dalam setahun, maka kita bisa memprediksi bahwa kita akan menyelesaikan setidaknya 1 buku dalam sebulan.
Bila kita mau jujur, waktu sebulan adalah relatif panjang untuk menyelesaikan sebuah buku, apalagi bila diiringi dengan kebiasaan membawa buku seperti tips nomor dua tadi !!!
Tips yang Keempat:
Jangan membaca hanya semata-mata karena kewajiban & suatu keterpaksaan. Kebanyakan orang, terutama di Indonesia membaca hanya semata-mata karena kewajiban & suatu keterpaksaan untuk mengerjakan tugas atau mempersiapkan suatu ujian. Sewaktu kita masih duduk dibangku sekolah (di kalangan pelajar) di Indonesia, istilah SKS yang berarti “Sistim Kebut Semalam” suatu yang tidak asing yang kerap kita dengar.
Mungkin kita akan tertawa bila kita ingat / saat kita mendengar istilah tersebut.
Tetapi sebenarnya banyak yang tidak peduli pada kenyataan bahwa: Cara Belajar seperti itu Bukanlah Cara Belajar yang Baik.
Sebagai dampak dari membaca yang dilakukan hanya semata-mata karena kewajiban dan cenderung merasa suatu keterpaksaan. Sungguh suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan bukan ???
Kebanyakan dari kita, hanya yang memiliki pemikiran yang sifatnya text-book thinking, atau hanya terpaku pada apa yang dituliskan di buku, dan lemah dalam mengimplementasikan maupun mengembangkan teori yang sudah dipelajarinya dalam kehidupan nyata.
Padahal tidak dapat kita pungkiri bahwa “Membaca” adalah suatu hal yang Sangat Baik, terutama bila berkaitan dengan menambah “Wawasan & Pengetahuan” dalam hidup kita. Penting untuk di-Ingat : Dengan meningkatkan intensitas kita dalam membaca, maka dengan sendirinya kita sedang berinvestasi untuk diri kita sendiri bagi masa depan kita.
Semakin banyaknya pengetahuan yang kita miliki, semakin besar jugalah kesempatan untuk kita menjadi orang yang lebih bijaksana dalam bertutur kata dan bertindak tentunya.
Jadi tunggu apalagi, mari kita mulai membiasakan diri dengan “MEMBACA”
Salam Sukses !
Dari Servista Bukit

Sumber : elindasari

Senin, 10 Mei 2010

Perkembangan Pendidikan Dasar

Sekolah Dasar (SD)
Secara umum, Angka Partisipasi kasar (APK) maupun Angka Partisipasi Murni (APM) Tingkat Sekolah Dasar mengalami peningkatan yang signifikan. Khususnya, pada tahun 2006, APM Tingkat SD dari 82,25 meningkat menjadi 99,24% pada tahun 2007. Sementara itu, apabila dilihat dari APK pada tahun 2006 hanya mencapai 96,50, justru pada tahun 2007 meningkat menjadi 116,20%.
Pertumbuhan siswa SD di Kota Bekasi apabila diproyeksikan dari trend 4 tahun sebelumnya dengan rata-rata kenaikan 3,03%, maka proyeksi hingga tahun 2013 mencapai 271.545 jiwa. Oleh sebab itu, kebijakan ke depan dalam rangka pendidikan dasar gratis, maka perhitungan anggaran pendidikan dapat dilihat dari proyeksi pertumbuhan siswa, guru, dan sarana prasarana pendidikan dasar.
Selama periode 2005-2007, jumlah sekolah dasar di Kota Bekasi mengalami pertumbuhan yang cukup cepat seiring dengan perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk. Pada tahun 2005, jumlah SD di Kota Bekasi sebanyak 633 Sekolah Dasar, meningkat menjadi 630 SD pada tahun 2006, kemudian pada tahun 2007 menjadi 707 Sekolah Dasar.
Kondisi Pendidikan Sekolah Dasar apabila diproyeksikan dengan pertumbuhan Peserta Didik Sekolah dasar (Negeri dan Swasta) Dengan kondisi eksisting 2006 mencapai 218.686 siswa, maka angka pertumbuhan yang diproyeksi 3,03% hingga tahun 2013 mencapai 271.545.
Berdasarkan kondisi eksisting Sekolah Dasar Negeri Kota Bekasi, jumlah siswa SD Negeri tahun 2007 sebesar 174.396 Siswa, 5286 guru dan 2.632 kelas, maka Rasio Kelas dengan Siswa adalah 1 : 66, tetapi apabila diasumsikan 1 kelas terdapat 2 rombongan belajar, maka Rasio Rombel : Siswa adalah 1 : 33 Siswa dengan rata-rata kelas di setiap sekolah 7 kelas. Kondisi tersebut apabila diproyeksikan pertumbuhan siswa 2,88% (didasarkan pada LPP) hingga tahun 2013 mencapai 206.787 Siswa, apabila di asumsikan tahun 2008-2013 tidak ada pertambahan jumlah sekolah, tetapi terjadi pertambahan jumlah ruang kelas rata-rata 10 Kelas, maka tahun 2013 diperkirakan terdapat 2.692 kelas. Di sisi lain, jumlah guru apabila diasumsikan naik rata-rata terjadi penambahan per-tahun 2,88%, maka rasio guru : Siswa diperkirakan hingga tahun 2013 adalah 1 : 33 siswa (asumsi ini berada di bawah batas SPM 1 : 40 siswa). Kondisi Pendidikan Dasar (Tingkat Sekolah Dasar).
Berdasarkan hasil Proyeksi di atas, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada 5 tahun ke depan di antaranya adalah:
1) Seluruh siswa usia SD (6-12 tahun) dapat menyelesaikan pendidikan Dasar
2) Sebagaimana visi Walikota Bekasi: Pendidikan Gratis, maka kebijakan ke depan adalah terjadi upaya pemenuhan biaya pendidikan minimal untuk Siswa SDN
3) Pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar (apabila dilihat dari asumsi pertumbuhan siswa 2,88%, maka minimal setiap tahun terjadi pertumbuhan jumlah guru 2,88%)
4) Siswa Lulusan SD/MI dapat melanjutkan ke tingkat Menengah SMP/MTs
5) Rehabilitasi dan pembangunan Ruang Kelas dan Unit Sekolah Baru SD Negeri (hal ini diasumsi berdasarkan hasil proyeksi pertumbuhan siswa dan penduduk di Kota Bekasi, dan antisipasi rasio kelas : Siswa yang ideal sebagaimana yang tertuang dalam SMP Pendidikan Kota Bekasi).

Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs)
Secara umum, Pada tahun 2007 proporsi jumlah lembaga pendidikan swasta lebih dominan dibandingkan negeri. Khusus di Tingkat SMP jumlah sekolah swasta sebanyak 206 sekolah sedangkan negeri 34 sekolah. Distribusi kelembagaan SMP dinilai cukup memadai baik dilihat dari rasio pertumbuhan penduduk maupun kapasitas fasilitasnya..

Untuk menciptakan kualitas pendidikan yang baik minimal harus diimbangi dengan tingkat pemerataan yang signifikan, di antaranya adalah rasio penduduk dengan siswa, rasio guru: siswa, Rasio Sekolah: Siswa, Rasio Sekolah: Guru, media atau sarana pendukung, kompetensi guru dan sebagainya.
Distribusi Sekolah SMP saat ini di Kota Bekasi berjumlah 192, dengan perincian menunjukkan bahwa Kecamatan Bekasi Timur (32 Sekolah), Kecamatan Bekasi Utara (24 Sekolah), Jatiasih (21 Sekolah), Pondok Gede (19 Sekolah), Bekasi Barat (18 Sekolah), Bekasi Selatan (17 Sekolah), Medan Satria (17 Sekolah), Rawalumbu (14 Sekolah), Mustikajaya (12 Sekolah), sedangkan yang terkecil jumlah SMP terdapat di Bantargebang (6 Sekolah), dan Pondok Melati (5 Sekolah). Namun data tersebut hendaknya dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan dan penduduk Usia 13 – 15 Tahun, maka terjadi ketimpangan di beberapa kecamatan. Hal ini terlihat dari tingkat pemerataan pendidikan dilihat dari jumlah penduduk usia 13 – 15 Tahun.

Berdasarkan data diatas, maka dapat dilihat bahwa rasio sekolah berbanding dengan Siswa rata-rata 1 : 373,75, sedangkan rasio jumlah kelas dengan siswa SMP adalah 1 : 42,92. Berdasarkan Rasio Jumlah Kelas : Siswa, maka dapat terlihat jelas kemampuan layanan kelas untuk Proses Belajar Mengajar (PBM) di beberapa wilayah terlihat dari asumsi jumlah kelas ideal (1 : 40 Siswa), maka Kecamatan Bantargebang (57,02), Kecamatan Mustikajaya (55,63), Jati Sampurna (50,59), Bekasi Timur (44,02), Bekasi Utara (47,14) perlu mendapatkan perhatian serius berkaitan dengan Standard Pelayanan Minimal (SPM) Penyelenggaraan Pendidikan SMP di Kota Bekasi.

Sementara itu, pertumbuhan Peserta Didik Tingkat SMP (Negeri dan Swasta) di Kota Bekasi dari data eksisting tahun 2006 berjumlah 218.686 , apabila diproyeksi rata-rata 3,03% maka pertumbuhan hingga tahun 2013 mencapai 91.250 Siswa berada di SMP negeri dan Swasta di Kota Bekasi.

Berdasarkan data profil pendidikan di kota Bekasi jumlah lembaga pendidikan dasar Tingkat SMP Negeri adalah 34 Sekolah pada tahun 2007, sedangkan tahun sebelumnya berjumlah 31 sekolah SMP Negeri dengan jumlah siswa sebanyak 33497 Siswa. Oleh sebab itu, analisa data minimal dikaji 3 komponen dasar, yaitu: (1) Jumlah Sekolah; (2) jumlah Guru; (3) Jumlah siswa, dengan asumsi 5 tahun data eksisting dan 5 tahun proyeksi dengan mempertimbangkan Rasio Sekolah : Siswa, Rasio Guru: Siswa, Estimasi Rasio Kelas : Siswa, dan Estimasi Jumlah Kelas Per-Sekolah. Proyeksi Kondisi Pertumbuhan rasio tersebut dapat terlihat pada tabel di bawah.

Rasio guru: Siswa untuk semua jenjang pendidikan masih cukup memadai. Akan tetapi khusus tingkat SMP rasio ideal hingga 5 (lima) tahun ke depan perlu diperhatikan dengan baik karena melebih angka Standar Pelayanan Minimal Pendidikan yaitu 1 : 40, sehingga perlu penanganan yang lebih baik.

Namun, dilihat dari tingkat Kompetensi Guru dapat dianalisis meliputi: Latar Belakang Pendidikan Guru dengan Ijazah Tertinggi dan Program Studinya, Bidang Studi/Mata Pelajaran yang Diajarnya di Sekolah. Untuk itulah, penyajian data sebagai basis analisis menjadi prasyarat dalam mengkaji kompetensi Guru SMP di Kota Bekasi, apabila dilihat dari kompetensi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Meneteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru SMP/MTS minimal Strata I (s-1), maka di Kota Bekasi masih terdapat 938 Guru yang pendidikannya di bawah S-1.

Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang harus diantisipasi berkaitan dengan Peningkatan Pendidikan Dasar Tingkat SMP di Kota Bekasi, yaitu:
• Aspek Kompetensi Guru, perlu menjadi perhatian khusus, terutama standar kompetensi guru sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007, di setiap jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA/MAK.
• Aspek Sertifikasi Guru dalam Jabatan dan Sertifikasi Profesi Guru (Dilihat dari Ijzah terakhir dan Bidang Pengajaran). Hal ini akan terlihat dari data jumlah tenaga pendidikan dilihat dari struktur pendidikan di setiap jenjang pendidikan.
• Peningkatan APK dan APM Tingkat SMP/MTs
• Pemenuhan Kebutuhan Tenaga Pengajar dilihat dari Angka Rasio Guru dan Murid
• Pemenuhan Biaya Pendidikan SMPN
• Peningkatan Siswa Lulusan SMP/MTs untuk melanjutkan ke Tingkat SMA/SMK/MA
• Peningkatan Rehabilitasi dan Pembangunan ruang kelas serta unit sekolah baru (USB) SMPN di Kota Bekasi. Hal ini berkaitan dengan rasio kelas

Sabtu, 08 Mei 2010

Metode ilmiah

Metode ilmiah

Metode ilmiah merupakan suatu prosedur (urutan langkah) yang harus dilakukan untuk melakukan suatu proyek ilmiah (science project). Secara umum metode ilmiah meliputi langkah-langkah berikut:
Observasi Awal
Mengidentifikasi Masalah
Merumuskan atau menyatakan Hipotesis
Melakukan Eksperimen
Menyimpulkan hasil Eksperimen













Observasi Awal

Setelah topik yang akan diteliti dalam proyek ilmiah ditentukan, langkah pertama untuk melakukan proyek ilmiah adalah melakukan observasi awal untuk mengumpulkan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan topik tersebut melalui pengalaman, berbagai sumber ilmu pengetahuan, berkonsultasi dengan ahli yang sesuai.
• Gunakan semua referensi: buku, jurnal, majalah, koran, internet, interview, dll.
• Kumpulkan informasi dari ahli: instruktur, peneliti, insinyur, dll.
• Lakukan eksplorasi lain yang berhubungan dengan topik.










Mengidentifikasi Masalah
Permasalahan merupakan pertanyaan ilmiah yang harus diselesaikan. Permasalahan dinyatakan dalam pertanyaan terbuka yaitu pertanyaan dengan jawaban berupa suatu pernyataan, bukan jawaban ya atau tidak. Sebagai contoh: Bagaimana cara menyimpan energi surya di rumah?
• Batasi permasalahan seperlunya agar tidak terlalu luas.
• Pilih permasalahan yang penting dan menarik untuk diteliti.
• Pilih permasalahan yang dapat diselesaikan secara eksperimen.










Merumuskan atau menyatakan Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu ide atau dugaan sementara tentang penyelesaian masalah yang diajukan dalam proyek ilmiah. Hipotesis dirumuskan atau dinyatakan sebelum penelitian yang seksama atas topik proyek ilmiah dilakukan, karenanya kebenaran hipotesis ini perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang seksama. Yang perlu diingat, jika menurut hasil pengujian ternyata hipotesis tidak benar bukan berarti penelitian yang dilakukan salah.
• Gunakan pengalaman atau pengamatan lalu sebagai dasar hipotesis
• Rumuskan hipotesis sebelum memulai proyek eksperimen











Melakukan Eksperimen

Eksperimen dirancang dan dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perhitungkan semua variabel, yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Ada tiga jenis variabel yang perlu diperhatikan pada eksperimen: variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol.
Varibel bebas merupakan variabel yang dapat diubah secara bebas. Variabel terikat adalah variabel yang diteliti, yang perubahannya bergantung pada variabel bebas. Variabel kontrol adalah variabel yang selama eksperimen dipertahankan tetap.
• Usahakan hanya satu variabel bebas selama eksperimen.
• Pertahankan kondisi yang tetap pada variabel-variabel yang diasumsikan konstan.
• Lakukan eksperimen berulang kali untuk memvariasi hasil.
• Catat hasil eksperimen secara lengkap dan seksama.





Menyimpulkan hasil Eksperimen
Kesimpulan proyek merupakan ringkasan hasil proyek eksperimen dan pernyataan bagaimana hubungan antara hasil eksperimen dengan hipotesis. Alasan-alasan untuk hasil eksperimen yang bertentangan dengan hipotesis termasuk di dalamnya. Jika dapat dilakukan, kesimpulan dapat diakhiri dengan memberikan pemikiran untuk penelitian lebih lanjut.
Jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis:
• Jangan ubah hipotesis
• Jangan abaikan hasil eksperimen
• Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai
• Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan selanjutnya untuk menemukan penyebab ketidaksesuaian
• Bila cukup waktu lakukan eksperimen sekali lagi atau susun ulang eksperimen.

MICROSOFT EXCEL DAN PENGGUNAANNYA DI DUNIA PENDIDIKAN

MICROSOFT EXCEL DAN PENGGUNAANNYA
DI DUNIA PENDIDIKAN




Dalam kegiatan sekolah tidak terlepas dari data-data yang dapat berubah sewaktu-waktu dan jumlah data yang besar. Perubahan data harus tersimpan dengan baik. Dalam pengelolaan data, kebanyakan sekolah masih menggunakan system pemerosesan manual, yaitu data yang ada berupa setumpuk kertas, atau rekaman, yang disimpan dalam rak yang besar.
Hal inilah yang memungkinkan para pegawai sekolah termasuk para guru sulit untuk bekerja secara fleksibel. Misalnya para guru dalam membuat daftar nilai para siswanya masih menggunakan daftar yang telah mereka terima dari sekolah, padahal mereka perlu waktu yang cepat mengerjakan sementara dengan daftar itu para guru harus memualainya dengan menghitung manual. Sungguh memakan waktu yang lama. Atas dasar itulah saat ini Pemerintah menggalakkan penggunaan teknologi computer dalam kegiatan pendidikan. Dengan tujuan memudahakan para unsur pendidikan, baik pendidik maupun peserta didik lebih efektif dalam pelaksanaan tugas dan pkerjaan.

Seiring dengan kemajuan teknologi, komputer merupakan produk teknologi yang mampu memecahkan masalah bukan hanya dalam segi perhitungan tetapi juga dalam kemampuannya menyimpan dan memberikan informasi. Jadi dengan computer para guru bisa bekerja dengan cepat dan tepat untuk menyelesaikan tugas itu.
Walaupun demikian, dalam masyarakat modern computer lebih banyak dimanfaatkan sebgai pusat data (database) dibandingkan penggunan lainnya.

Adapun salah satu alikasi yang bisa meringankan kerja para guru adalah Microsoft excel. Microsoft excel, pada umunya digunakan untuk mengolah data dalam bentuk angka. Dengan program ini, diharapkan kerja guru lebih ringan, karena dalam bekerja hanya memasukkan data ke Nilai Harian saja, perhitungan nilai tertinggi, terendah, rata-rata dari setiap kelas atau secara paralel semua kelas sudah terisi otomatis.
Siswa yang tuntas maupun yang tidak tuntas juga bias langsung diketahui seluruhnya tanpa perlu memilah lagi. Setelah Nilai Harian terisi, maka Tes Tengah Semester, Tes Akhir Semester dan Raport akan terisi dengan sendirinya, baik Semester Gasal maupun Semester Genap.
Tidak hanya itu saja aplikasi excel jugga dapat digunakan unutk membauat kartu perpustakaan. Membuat kartu perpustakaan sering dibuat menggunakan Word. Kelemahan membuat kartu di Word adalah pengaturan Mail Merge yang rumit, jika mengehendaki satu halaman memuat 10 kartu sekaligus, jika tidak menggunakan mail merge maka data anak yang telah mendapat kartu terhapus.
Adapun keunggulan membuat kartu dengan Excel adalah cepat dan data tetap tersimpan, sehingga anak-anak yang sudah mendapat kartu tetap terarsip datanya. Selan itu data siswa biasanya sudah diketik di Excel sehingga ketika akan membuat kartu tidak perlu mengetik ulang data siswa, sukup mengkopi dari data siswa yang telah diketik oleh bagian kesiswaan.
Namun didalam pengolahan basis data excel memiliki kelemahan, yaitu dalam proses pencarian data kurang cepat dan harus memblok data yang akan diedit kemudian kita hapus dan baru proses pengeditan berlangsung.
Adapun didalam mengelola basis data, salah satu perangakat lunak yang popular adalah Microsoft visual Basic 6.0 yaitu suatu bahasa pemograman yang berbasis windows. Sebagai bahasa pemograman yang mutakhir, Microsoft Visual Basic 6.0 didisain untuk dapat memanfatkan fasilitas yang tersedia dalam Microsoft windows.
Penggunaan bahasa pemograman Visual Basic dalam penanganan basis data merupakan kemajuan teknologi dala perkemabangan basis data.

Pengelolaan basis datanya masih menggunakan Microsoft Accsess dan Microsoft excel, kedua program tersebut mempunyai kelemahan dalam pengelolaan basis data antara lain dalam Microsoft Accsess hasil program yang kita buat harus disertakan software, Access tidak dapat berdiri sendiri dan menu pilihannya sudah tersusun dalam program tanpa perlu kita buat sendiri.
Sedangakan visual basic, program yang kita buat bisa berdiri sendiri dengan mambuat setup nya karena dalam Visual Basic terdapat fasilitas menu pilihan yang bisa kita atur sesuai dengan kebutuhan.